Severance merupakan serial TV orisinal produksi Apple yang disutradarai oleh Ben Stiller. Serial ini mengangkat kisah tentang sebuah prosedur unik bernama Severance atau ‘pemutusan”, yang memungkinkan seseorang membagi kesadarannya menjadi dua kepribadian terpisah: innie dan outie. Innie adalah versi diri yang hanya ada saat bekerja, sementara outie adalah kepribadian yang menjalani kehidupan di luar kantor. Prosedur ini dirancang untuk menciptakan batas yang jelas antara kehidupan profesional dan pribadi, memberikan ilusi kemaksimalan work-life balance. Mereka yang menjalani prosedur ini bekerja di sebuah perusahaan bernama Lumon Industries. Selama berada di kantor, para innie tidak memiliki ingatan apapun tentang kehidupan pribadi mereka di dunia luar, begitu pula sebaliknya, para outie sama sekali tidak mengetahui apa yang mereka lakukan saat bekerja.
Severance pertama kali tayang di Apple TV+ pada 18 Februari 2022 dengan total sembilan episode. Setiap episodenya memakan biaya produksi sekitar 20 juta dolar, menjadikannya salah satu serial TV termahal yang pernah dibuat. Serial ini mendapat pujian luas dari kritikus berkat sinematografi, penyutradaraan, desain produksi, musik latar, cerita, serta penampilan para aktornya. Pada ajang 74th Primetime Emmy Awards dan Creative Arts Emmy Awards, Severance meraih 14 nominasi, termasuk kategori Outstanding Drama Series serta nominasi akting untuk Adam Scott, John Turturro, Christopher Walken, dan Patricia Arquette. Serial ini berhasil memenangkan penghargaan untuk Main Title Design dan Musical Score terbaik. Tiga tahun kemudian, Apple akhirnya merilis musim kedua Severance yang telah dinanti-nanti pada 17 Januari 2025. Dengan total 10 episode, musim terbaru ini disambut dengan keantusiasan para penggemar setelah ending musim pertama berakhir dengan cliffhanger alias menggantung.
Serial ini mengikuti kisah Mark Scout (diperankan oleh Adam Scott) yang memutuskan untuk menjalani prosedur severance sebagai cara untuk mengatasi kesedihan setelah kehilangan istrinya yang baru saja meninggal. Plot serial ini dimulai ketika divisi tempat Mark bekerja, Macrodata Refinement (MDR), kedatangan anggota baru bernama Helly R (diperankan oleh Britt Lower), yang tampaknya menyesali keputusannya untuk menjalani prosedur severance. “Am I a livestock?” adalah pertanyaan pertama yang ia lontarkan ketika terbangun di atas meja konferensi Lumon tanpa ingatan apapun tentang dirinya.
Anggota Macrodata Refinement lainnya, yaitu Dylan G (diperankan oleh Zach Cherry) dan Irving B (diperankan oleh John Turturro), bersama Mark dan Helly, mulai mencurigai adanya rahasia besar yang disembunyikan perusahaan ketika semakin banyak kejadian-kejadian aneh dan mencurigakan yang terjadi. Mulai dari ruangan penuh anak-anak kambing, anggota divisi lain yang secara tiba-tiba dipecat dengan misterius oleh Lumon, hingga adanya kecurigaan bahwa Lumon terlibat dengan kematian istri Mark. MDR diawasi dengan ketat oleh Mr. Milchick (diperankan oleh Tramell Tillman), seorang pengawas yang terlihat ceria dan unsevered (tidak menjalani prosedur severance), serta atasannya yang jauh lebih menyeramkan, Harmony Cobel (diperankan oleh Patricia Arquette).
Sementara itu, di dunia luar, Mark versi outie tiba-tiba didatangi oleh seorang pria misterius bernama Petey (diperankan oleh Yul Vazquez). Petey mengaku sebagai sahabatnya di Lumon dan baru saja dipecat. Karena tidak ada transfer ingatan antara dua dunia ini, para innie tentu tidak mengenali sesama innie saat berada di luar kantor, sehingga pertemuan ini membawa Mark terseret ke serangkaian misteri yang semakin dalam.
Seolah konsep severance sendiri belum cukup aneh, para staf Macrodata Refinement bahkan tidak tahu apa sebenarnya pekerjaan yang mereka lakukan. Dialog 'The work is mysterious and important
‘ diulang lebih dari sekali sepanjang serial, menegaskan betapa sedikitnya informasi yang kita miliki tentang Lumon Industries dan kebenaran di baliknya. Seiring berjalannya cerita, Mark dan rekan-rekannya mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan Lumon.
Penonton serial ini berteori bahwa prosedur severance diklaim diciptakan untuk memaksimalkan keseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi serta memungkinkan seseorang untuk fokus sepenuhnya pada dunia kerja dan dunia nyata tanpa gangguan. Namun, seiring berjalannya cerita, kita mulai menyadari bahwa apa pun yang dirasakan oleh outies ternyata juga ikut dirasakan innies—meskipun mereka memiliki pemahaman dan kemampuan yang sangat sedikit tentang emosi yang kompleks. Salah satu tema utama dalam musim pertama adalah kesedihan, yang terutama terlihat dalam alur cerita outie Mark yang masih berduka atas kematian istrinya. Setiap pagi, outie Mark menangis di tempat parkir Lumon sebelum memasuki kantor. Dan ketika ia tiba—saat kesadarannya beralih ke innie Mark—innie Mark akan muncul dengan mata merah, perasaan kosong, dan kesedihan yang tak ia mengerti. “You carry the hurt with you,” kata Petey kepada Mark. “You feel it down there too. You just don’t know what it is.”
Throughout the series, we learned that grief transcends severance. Does love?
Selain alur cerita yang unik dan atmosfer mencekam yang dihadirkannya, Severance juga sangat apik dalam mengeksekusi aspek sinematografi. Setiap adegan dirancang sedemikian rupa sehingga memberikan rasa tidak nyaman bagi penonton, menggunakan komposisi simetris yang sempurna dan suasana distopia yang kuat. Pengambilan gambar yang sangat simetris merefleksikan prosedur severance yang dijalani oleh para pekerja Lumon—membagi hidup mereka, secara sempurna, secara adil, menjadi dua.
Warna juga memainkan peran besar dalam membangun nuansa serial ini. Warna merah merepresentasikan dunia luar, dunia di mana outies menjalankan hidup mereka, sedangkan warna biru melambangkan dunia innies. Ketika kedua dunia ini mulai bertabrakan, warna ungu—hasil perpaduan merah dan biru—selalu muncul sebagai simbol dari benturan kedua realitas yang terjadi.
“It’s shot in a way that it could almost look like a 1970s film. For the world of the Outies, we were going with a ’70s spy-thriller mood, using longer lenses and a more studio-based aesthetic; for the Innies’ world, we wanted to give a sense of surveillance and paranoia, thus the camera is closer, on wider lenses, and the movements are very robotic and servo-inspired,” ungkap Jessica Lee Gagné, direktur sinematografi Severance.
Seiring berkembangnya cerita, serial ini menghadirkan lebih dari sekadar gambaran dunia kerja yang suram. Ada kejutan yang mengguncang, plot twist yang tak terduga, serta keterkaitan antarkarakter yang perlahan terungkap. “Well, maybe love transcends severance,” ucap Dylan saat para karakter mulai memahami arti perasaan dan cinta di tengah dunia yang berusaha memisahkan mereka dari emosi dan perasaan.
Meskipun sekilas Severance hanya tampak sebagai serial thriller, ia sebenarnya menawarkan lebih dari sekadar ketegangan. Serial ini menggambarkan cinta, kebiasaan kerja yang tidak sehat, hubungan antarmanusia, kesehatan mental, rasisme, kontrol, makna identitas, serta ilusi kehendak bebas dan pilihan. Semua tema ini disampaikan dengan tajam dan unik, menjadikan Severance lebih dari sekadar kisah tentang lingkungan kerja yang distopik.
Severance berhasil menciptakan pengalaman menonton yang menggugah pikiran. Perpaduan sinematografi yang estetis, alur cerita yang penuh misteri, serta karakter yang kompleks, menjadikan serial ini sebagai salah satu tontonan terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Bagi penonton yang menyukai cerita penuh teka-teki dengan kritik sosial yang tajam, serial ini adalah pilihan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan musim kedua yang telah lama dinantikan, Severance terus membuktikan bahwa ia bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sebuah refleksi mendalam tentang kehidupan modern.
(Zia Zhafira)